Tukang jahit keliling yang tak terkikis zaman
Keberadaan tukang jahit keliling di sudut-sudut kota bukan sekadar potret pekerjaan tradisional yang bertahan di tengah modernisasi.
Menurut sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rahkmat Hidayat, fenomena ini justru mencerminkan bagaimana sektor informal perkotaan masih hidup, meski terus terdesak oleh dominasi ekonomi formal dan digital.
“Keberadaan tukang penjahit keliling, lalu tukang sepatu keliling, kemudian tukang cukur yang keliling atau mangkal di pinggir jalan, di bawah pohon, itu menunjukkan masih bertahannya sektor informal perkotaan di tengah modernisasi,” ujar Rahkmat saat dihubungi Kompas.com.
Ia menjelaskan, sektor informal perkotaan merujuk pada aktivitas ekonomi yang tidak terdaftar secara formal, tidak tercatat dalam sistem resmi, serta dijalankan dengan modal terbatas dan tanpa struktur pegawai yang besar.
"Dia bisa berjalan sendiri, gampang dibuka, tapi gampang juga tutup karena sangat terbatas permodalannya," imbuh dia.
Dalam konteks modernisasi saat ini, keberadaan tukang jahit keliling, menurut dia, menjadi penanda bahwa sektor informal kota belum sepenuhnya tersingkir oleh ekonomi komersial dan ekonomi digital.
“Keberadaan penjahit keliling itu menunjukkan bahwa kita masih melihat sektor informal kota yang bertahan di tengah kepungan ekonomi komersil, seperti mal, pusat perbelanjaan, dan sekarang e-commerce yang mendominasi ekonomi perkotaan,” ujar dia.
Rahkmat menilai, bertahannya tukang jahit keliling juga menunjukkan masih adanya kebutuhan masyarakat perkotaan terhadap jasa-jasa sederhana yang cepat, murah, dan mudah diakses.
“Ini menunjukkan bahwa pada satu sisi ekonomi komersil dan e-commerce berjalan secara masif, tapi di sisi lain, secara minoritas, sektor informal juga bertahan. Dia masih ada, meskipun harus berjuang,” kata Rahkmat.
Namun, perjuangan itu tidak ringan. Rahkmat melihat adanya kontestasi ekonomi di ruang kota, yakni antara ekonomi formal, ekonomi digital, dan ekonomi informal.
“Ini adalah kontestasi ekonomi di ruang kota. Ekonomi formal dan ekonomi digital dengan ekonomi informal. Kepungan hegemoni ekonomi formal dan ekonomi digital membuat sektor informal semakin lama semakin tergerus, semakin terpinggirkan,” tutur Rakhmat.
Ia mencontohkan, jumlah tukang jahit keliling dan tukang sol sepatu yang kian berkurang dari tahun ke tahun.
Persaingan tidak hanya datang dari e-commerce atau toko besar, tetapi juga dari sesama pelaku jasa yang sudah memiliki tempat tetap.
“Tukang jahit keliling ini juga harus bersaing dengan penjahit-penjahit yang punya toko, yang mangkal di satu tempat. Jadi persaingannya keras, bukan hanya dengan ekonomi digital, tapi juga dengan penjahit yang mangkal,” kata Rahkmat.
Meski demikian, Rahkmat menegaskan bahwa tukang jahit keliling masih relevan, terutama pada momen-momen tertentu.
“Menjelang Idul Fitri, itu ramai. Baik penjahit yang punya tempat maupun tukang jahit keliling sama-sama ramai. Begitu juga menjelang tahun ajaran baru, saat banyak orang mempermak seragam sekolah,” ujar dia.
Ia menilai, sektor informal tetap bertahan karena masih dibutuhkan oleh masyarakat. Jika tidak relevan, sektor tersebut akan hilang dengan sendirinya.
“Kalau tidak relevan, dia akan punah. Tapi faktanya, dia masih ada. Artinya, masih dibutuhkan,” kata Rahkmat.
Dari sisi kelas sosial, Rahkmat menyebut pengguna jasa tukang jahit keliling umumnya berasal dari kelas menengah ke bawah, meski tidak menutup kemungkinan digunakan oleh kelas menengah atas dalam konteks tertentu.
“Misalnya di perumahan kompleks, cluster, atau townhouse, tukang jahit keliling itu sangat membantu. Orang tidak perlu keluar, tidak perlu cari toko jahit, bisa ditunggu di depan rumah,” ujar dia.
Menurut Rahkmat, relasi antara tukang jahit dan pelanggan juga mengalami pergeseran.
Jika dulu interaksi bersifat spontan dan acak, kini perlahan berubah menjadi relasi yang lebih personal, terutama pada penjahit yang mangkal.
“Relasi yang tadinya spontan, random, sekarang bergeser menjadi relasi yang lebih intensif. Jadi langganan tetap, kenal, akrab, bahkan bisa ikut pindah ketika tukang jahit membuka tempat baru,” jelas Rakhmat.
Meski kecil dan kerap terpinggirkan, Rahkmat menilai sektor informal memiliki peran penting dalam ekosistem ekonomi kota.
“Sekecil apa pun perannya, sektor informal itu jasanya tetap dibutuhkan. Tanpa mereka, masyarakat akan kesulitan memenuhi kebutuhan yang tidak mereka kuasai, seperti menjahit, sol sepatu, atau pangkas rambut," tutur Rakhmat.
"Ini hubungan simbiosis mutualisme dalam ekonomi perkotaan," tambah dia.


0 Response to "Tukang jahit keliling yang tak terkikis zaman"
Posting Komentar